Yang disyukuri

Apresiasi setinggi-tingginya untuk semua ibu yang udah sangat berusaha mengasuh anak-anaknya 🀧 Selama hamil, jadi suka keinget sama ibu. Gimana perjuangan beliau merawat dan mendidik anaknya dari masih janin sampe usiaku seperti sekarang.

Gak gampang ya, semua ada kerikil perjuangannya. Tapi Allah Ar-Rahman sungguh sangat sanggup membantu hambaNya yang mau sekedar menengadahkan tangan, meminta hanya kepadaNya.

Dear baby in my womb, di trimester ke 2 ibu tau kalau kamu juga merasakan emosi yang ibu rasakan beberapa minggu yang lalu karena sempat terjebak di situasi pandemi yang rumit sekaligus 40 hari gak bisa ketemu sama ayah. Labilnya ibu, mood swing dan baperan ●_●

Nak, terima kasih sudah berusaha kuat. Terima kasih sudah mendengarkan ibu ngomong, kalo kita harus bisa bareng-bareng lewatin perjuangan ini dengan kuat, sabar dan hati yang ridho terhadap semua ketetapan Allah ❀

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah, saat USG kemarin kamu membuktikan kalo kamu sehat 😭 Padahal hati udah dredeg tak menentu, terus dibikin terharu πŸ™ƒ

Terima kasih juga paksu, yang saat itu selalu memastikan kondisi istrinya baik-baik aja dari ujung telpon. Beliau yang jadi makin sering searching di internet tentang keluhanku selama hamil, cari obat yang aman dan cariin video senam hamil. Utawyang 😺 Haha..

After the storm, and yeah here we are! We’re blessed to have each other πŸ€—

Belajar dari sirah perang mu’tah

Untuk pertama kalinya Rasulullah saw menyerukan perang untuk menaklukkan romawi. Ketika 3.000 pasukan islam berperang dengan 200.000 pasukan romawi, pasukan islam berperang dengan senjata seadanya sedangkan romawi dengan alat paling canggih pada masanya. Melihat keadaan yang rasanya gak seimbang itu, salah satu prajurit islam minta kepada sang panglima untuk berkirim surat kepada Rasulullah saw seenggaknya ya kali aja bisa nambah pasukan gtu. Hal yang wajar kan jika ada masukan seperti itu. Ya mungkin kalo aku di posisi prajurit juga pasti ada rasa ciut. Tapi tau gak apa yang diucapin sama si panglimanya, Abdullah bin Rawahah:

“Demi Allah, sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai itu justru sebenarnya merupakan tujuan keberangkatan kalian. Bukankah kalian menginginkan mati syahid. Kami memerangi musuh bukanlah dengan mengandalkan jumlah kekuatan maupun banyaknya bala tentara, kita memerangi mereka hanyalah mengandalkan agama ini yang karenanya lah Allah memuliakan kita. Maka dari itu terus maju, kita pastikan memperoleh salah satu dari 2 kebaikan, Menang atau Mati syahid!”

Beeeh, gak salah nih milih mental panglima perang kayak gini. Pasti dalam hidup ini kita pernah melewati rintangan-rintangan yang gak biasa, pengalaman hidup untuk pertama kalinya, nah tugas kita cuma berjuang sampe titik darah penghabisan, harus totalitas 100%, hadapi rasa takut itu, lawan, maju terus dan tetap tenang. Dan ingat niatnya lurus lillahi ta’ala, bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah.

Betewe, Abdullah bin Rawahah tetep punya rasa takut yang manusiawi melihat kedua sahabatnya sudah syahid terlebih dahulu, mati mengenaskan. Yang pertama Zaid bin Haritsah syahid terkena tombak. Lalu, tubuh Ja’far terpotong-potong. Dikisahkan bahwasannya kedua tangannya tertebas, bahkan dadanya juga menjadi sasaran dan Rasulullah bilang gini, “nanti di surga tangan Ja’far digantikan dengan sayap.” MasyaAllah 😭 Seketika itu Abdullah bin Rawahah bangkit mengambil bendera panji Rasulullah yang terjatuh, beliau bilang kayak gini ke dirinya sendiri:
“Aku sumpahi kamu wahai diriku, turunkanlah kamu, turun, atau aku paksa turun. Bukankah telah sekian lama kamu menunggu harapan, bukankah kamu ini tidak lebih dari setetes air mani yang ditumpahkan.”
Jadi, Abdullah bin Rawahah memarahi dirinya sendiri ketika sedang merasa takut mati agar bisa berani menjalankan perintahnya Rasulullah. Sampai pada akhirnya, beliau juga menjemput syahid.

So, ketika tujuan akhir kita adalah ridhoNya Allah, ingin berhasil yaudah kerahkan segenap 100% kemampuan kita untuk mencapai impian kita. Semua dari kita pasti sama tujuan kesuksesannya pengen masuk surga, tiket masuk surga itu bukan karena amalan kita, tapi ini tentang Allah ridho atau gak kita masuk surga 😭😭😭 Jangan pernah mewujudkan mimpi seorang diri, tapi selalu libatkanlah Allah. Itu yang akan bikin orang-orang punya impact yg gak biasa. Jadi, its okay kita ambisius terhadap apa-apa yang bikin kita dapat ridhoNya Allah 🌱

PS: tulisan terinspirasi dari podcast teh Farah Qoonita yang masyaAllah (βŒ’oβŒ’)

Feeling useless (?)

Pernah gak sih feeling useless?

Mungkin banyak yang ngerasa gini yaa (atau cuma aku doangπŸ˜‚), terutama di umur-umur segini. Kadang perasaan kita atau apa yang kita yakini terkait diri kita ga selalu bener nyatanya seperti itu. Sebenernya kita udah punya perannya masing-masing, walaupun terlihat ga penting di mata kita, tapi bisa jadi itu berharga lho buat orang lain atau orang-orang terdekat kita. Kadang hal-hal yang bermanfaat atau yang bermakna ga harus selalu besar & gemerlap kok. Malah kadang seringkali yang sederhana itu berarti besar.

Emang perasaan useless tuh gak enak banget. Kadang kita udah berusaha positif thinking, tapi ada sisi dalam diri kita yang mengkritik keras gitu. Bahkan ada beberapa orang kalo udah ngerasa gini (termasuk akuπŸ˜…), hmm salah satu cara teknisnya ngemute-in story orang-orang yang bukan temen deket, untuk mengurangi paparan info yang bejibun hehehe. Kalo cara psikologisnya, berusaha meyakinkan diri kalo semua orang itu punya jalan hidup yang unik masing-masing, rezekinya, ujiannya pun berbeda-beda.

Entah apakah pengaruh medsos juga dengan bejibun informasi yang masuk, kita secara ga sadar jadi suka bandingin hidup kita sama orang lain, mungkin kali ya. Tapi nih berharga tidaknya kita ga ditentukan dari penilaian/penerimaan luar kok, ga ditentukan dari prestasi juga. Bisa jadi ditentukan gimana kita mau berusaha, belajar, dan berbenah lebih baik. Bahkan walaupun cuma sedikit-sedikit.

Biasanya yang kudu kita lakuin saat merasa seperti itu, kita harus berusaha mempercayai proses dan melakukan sesuatu dengan apa yang kita punya/bisa, walau yang kita lakukan itu mungkin hal sederhana banget. Meskipun juga ga terlalu yakin akan membawa dampak/membuahkan hasil nantinya. Hanya berharap suatu saat akan memberikan manfaat juga.

Apapun standar kebermanfaatan yang ditetapkan dunia luar, apapun kekuranganmu, kamu berharga dan bermanfaat sayang! Kadang kita ke diri sendiri emang suka kurang objektif, entah tentang kelebihan maupun kekurangan, juga kadang emang agak sulit menerima diri sendiri seutuhnya wkwk. Yah, its okay I love myself ❣️ Yang ngerasa kyk gini sini pelukan πŸ€—

PS: sefruit balesan curcol chat honey @erdisanoor 😘

Stimulasi Suka Membaca #1

Kalo boleh jujur level ini yang saya tunggu-tunggu. Karena apa? Karena banyak banget tanggungan buku yang belum kebaca 😦 Hampir 4 bulanan gak ada blas buku yang khatam dibaca😭 Yaampun sedih akutu. Padahal target tahun ini bisa selesai baca 20 buku, tapi kenyataannya manajemen waktu saya yang buruk. Screen timenya terlalu banyak daripada enjoy the books 😭 Terakhir bulan Maret kemarin selesai baca buku yang berjudul “Wonderful Journey” karya Pak Cahyadi Takariawan. Ada juga 2 buku yang lain sudah dibaca, buku “Bertumbuh” karya Kurniawan Gunadi dan ebook “Love and Happiness” punya Yasmin Mogahed. Jadiii, baru 3/20 buku yang tercapai dituntaskan. Fit, ayo fit semangaaat nyelesainnya. Don’t waste your time with gadget. HuaaahβœŠπŸ‘ŠπŸ’ͺ

Gaya Belajar #10

Yak, setoran terakhir di level 4 wkwk. Duh bingung euy nulis apa. Apa sih yang gak buat kelas bunsay pra nikah, rela-relain begadang di tengah deadline yang sejam lagi ahaha. Mana malam minggu lagi sekarang. Lah emang mau kemana Fit? Yaa gak sih, kangen aja “me time” hoho..

Nah, setelah saya tau ternyata gaya belajar itu ada macamnya, semoga ke depannya saya jadi makin paham dengan gaya belajar diri sendiri. Dan saya juga perlu menentukan gaya belajar yang cocok secara kondisional dan fleksibel. Penting juga nih kitanya menghargai gaya belajar orang lain, jangan sampe malah jadi salah paham gara-gara, “Ih suara kamu tuh berisik kalo lagi belajar. Aku kan juga belajar. Konsentrasiku pecah karena kamu.” Kalo sekarang karena udah paham tentang gaya belajar, “Oh ternyata dia tipe kinestik nih. Oke aku pergi ke tempat lain aja deh yang lebih nyaman dan tenang.”

Begitu yhaa πŸ˜€

Gaya Belajar #9

Sebut aja, saya duduk anteng kalo pas lagi belajar. Gak biasa tuh yang kayak mondar mandir sambil hafalan misalnya, jadi ya begitu minim gerak. Dari sisi kinestetik, cara belajar saya tidak harus melakukan gerakan tubuh apalagi sambil berjalan. Karena menurut saya kalo belajar sambil bergerak itu akan mengurangi jatah energi kita. Belajar aja butuh energi mulai dari otak yang bekerja, tangan, mata dan telinga. Jadi secara keseluruhan untuk kegiatan belajar saya dominan berada di sisi visual dan auditori namun tidak benar-benar condong pada salah satunya πŸ™‚